Home » Artikel » Para Pencari Suaka Di Jakarta

Para Pencari Suaka Di Jakarta

rudenimJakarta – Satu setengah tahun berlalu sejak publik ramai membicarakan keberadaan pengungsi yang telantar di luar Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Jakarta. Ternyata para korban pergolakan dunia masih saja berada di pinggir jalan ini. Keberadaan para pencari suaka di trotoar Jalan Peta Selatan, Kalideres, itu sempat membelalakkan mata publik Indonesia pada Agustus 2017. Sejak saat itu, ada pengungsi yang berlalu, ada yang bertahan, ada pula yang tiba sebagai pendatang baru.

Mereka berasal dari Benua Asia dan Afrika. Tanah air mereka dilanda peperangan, dirundung kelompok teror, perang saudara, hingga persekusi etnis. Sampailah kaki-kaki pengungsi dari dua benua di sudut Jakarta Barat.

Memang tak ada lagi barisan tenda compang-camping di atas trotoar depan Rudenim Jakarta seperti pemandangan setahun lalu. Tempat itu kini sudah dipasangi tanaman hias. Namun di seberang, masih ada wajah-wajah pengungsi yang termangu seperti menantikan sesuatu.

Berjongkok di bawah payung, duduk di lapak-lapak asal jadi, atau bersandar di pohon, begitulah para pengungsi itu teramati pada Kamis (31/1/2019) siang.

Hingga radius 100 meter dari Rudenim Jakarta, wajah para pengungsi ini banyak dijumpai. Di warung kecil seberang Rudenim, ada tiga laki-laki dewasa yang sedang duduk dan berbicara satu sama lain. Mereka tidak membeli apa-apa, hanya berteduh dari terik. Sekitar 20 meter di sebelah kiri mereka, tepatnya di bawah pohon-pohon, banyak pengungsi yang duduk beralas tikar.

Di satu tikar ada tiga pengungsi asal Benua Afrika yang sedang bermain kartu, sedangkan di tikar yang tak jauh dari mereka ada seorang pengungsi Afghanistan makan nasi bungkus bersama anak balitanya. Di depan toilet umum, tiga pengungsi Afrika duduk-duduk. Salah satu pengungsi Afrika tersebut dihampiri oleh seorang pedagang keliling yang menawarkan berbagai macam aksesori, seperti gelang. Basa-basi ia melihat barang dan menanyakan harganya dengan bahasa Indonesia pas-pasan, sebelum kemudian melontarkan senyum dan memberikan gestur tanda menolak.

Sebagaimana suasana umum di jalanan Jakarta, debu-debu beterbangan, asap kendaraan senantiasa terhirup, panas mentari menyengat, gerah dan lengket, kadang juga basah kuyup diguyur hujan. Semua itu mereka rasakan, meski tak nyaman, tapi lebih baik ketimbang hujan peluru, luncuran mortir, dan ledakan bom di negara asal mereka.

Satu bocah berkulit terang dengan rambut kecokelatan mendekat. Persis di depan warung kecil, si bocah menunjuk-nunjuk kotak penyimpanan minuman dingin. Anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun ini berhasil merayu saya untuk membelikannya teh kemasan gelas. Tujuh bocah pengungsi lainnya buru-buru menyusul. Jadilah ‘pesta teh kemasan’ sederhana di atas trotoar ini. Teh disedot sampai tandas, wajah-wajah mereka menjadi ceria.

Menurut Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), ada 13.800 pengungsi di Indonesia. Itu adalah jumlah pengungsi yang terdaftar oleh UNHCR Indonesia. Sebanyak 29 persen dari jumlah itu adalah anak-anak. Ada 229 anak-anak yang datang sendiri ke Indonesia, terpisah dari keluarga.

Terlihat di sekitar Rudenim Jakarta ini, para pengungsi punya penampilan berbeda-beda. Sebagian berwajah Asia Tengah, sebagian lagi berwajah Afrika. Menurut UNHCR, hingga akhir Oktober 2018, kebanyakan pengungsi di Indonesia datang dari Afghanistan (55%), Somalia (11%), dan Irak (6%).

Awal tahun 2018, jumlah pengungsi yang menggelandang di trotoar ini 200-an orang. Mereka ingin ditahan saja di Rudenim supaya lebih terjamin hidupnya. Namun Rudenim tak mampu lagi menampung lebih banyak orang, maka banyak dari mereka yang tetap berada di atas trotoar. Media-media luar negeri turut menyoroti telantarnya mereka saat itu.

Namun kini, 2019, jumlah mereka sudah cenderung berkurang. Saat ini jumlah mereka sekitar puluhan orang, ada pula yang datang dan pergi.

Rudenim tak lagi membuka pintu untuk mereka karena ruang tahanan mereka sudah penuh, melebihi kapasitas yang seharusnya. Di sisi lain, dinamika politik internasional juga belum memberi angin segar bagi pengungsi-pengungsi ini. Australia memperketat penerimaan imigran baru, Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump juga semakin berhati-hati menerima pendatang. Bila pulang ke negaranya, mereka khawatir disambut konflik berdarah. Tapi untuk tinggal di Indonesia, mereka tak bisa bekerja. Lalu apa yang mereka tunggu di trotoar ini?

sumber: https://news.detik.com/berita/d-4411510/setahun-lebih-sudut-kalideres-ini-jadi-titik-pengungsi-dua-benua

error: Content is protected !!